Untukmu

(untuk Radityo)

Pada hari-hari biasa aku tak pernah peduli apa yang kamu lakukan saat tidak bersamaku. Aku ingin, tapi kuputuskan bersikap cool. Kupikir kamu lebih suka jika aku seperti itu, dan sebagai balasannya kamu akan memberiku senyummu yang lucu itu saat kita ketemu.

Kujelaskan perasaanku. Sejak awal aku tau bahwa kamu tidak hanya milikku, namun itu tak pernah kupermasalahkan. Aku menutup telinga dan hatiku akan segala cerita tentang kalian. Sebab aku amat, sangat, cemburu… Maksudku aku serius benar-benar tak ingin kamu terbagi, but all I can do is acting “ya-sudahlah”. And it went good. I mean, really good. We shared beautiful moments together.

Sampai aku pun percaya, meski mungkin hanya benar di dalam khayalku, bahwa kamu yang sesungguhnya hanya mencintaiku saja. Bahwa bersamanya hanya sekedar rutinitas.

Aku kejam karena pikiran itu, namun salahkah hati yang mencintaimu merasakannya? Aku tak peduli. Hatiku yang merupakan milikmu ini sangat meyakini keputusan sepihak itu. Sebuah hiburan untuk bayang-bayang tak penting akan sesuatu di antara kalian. Sebuah angan yang nyaris nyata, layaknya schizophrenia, bahwa hanya ada aku di hatimu. Nyaris tak terbedakan lagi antara yang maya dan yang nyata; namun apa bedanya? Aku terlanjur bahagia. Aku tak ingin bangun dari mimpi-mimpi indah.

Sebuah kenyataan lantas menamparku, dan aku malah menangis tidak terima. Ini salah. Segala mimpi seolah runtuh. Kemana saja aku? Bukankah aku seharusnya sudah tau? Paling tidak aku sudah menduga dan mengantisipasi. Entah kenapa kali ini keyakinanku lemah.

Mungkin kamu pun tak siap untuk semua ini.

Tolong lupakan emosiku hari ini, karena… Kamu tau, saat emosi, segala yang kukatakan sebagian besar akan kusesali.

Bahwa menurutmu aku akan pergi. Ya, aku sempat ingin pergi. Sempat ingin kulupakan semua yang sudah menjadi sumber bahagiaku. Kamu, perhatianmu, kasihmu, bagaimana kamu menjagaku.

Lalu kulihat wajahmu. Aku tak tahan. Aku menyayangimu… lebih, dari apa yang kuduga akan kulakukan. Aku tak hanya menyayangimu. Wajahmu, segala kata-katamu… Tolong, jangan pergi. Jangan pergi. Jangan pergi. Tinggallah bersamaku, dan aku tak peduli akan hal lain kecuali memilikimu.

Kamu selalu menjadi matahariku.

Aku nggak bilang “maaf” karena kamu bosan mendengarnya, namun kamu harus tau: I will not let you go. I know you will not let go of me, too. And I have always loved you; since the first time we shared stories, until after I have this worst thing coming.

Almarhum Stephen Gately bilang begini.

I will learn to live before I die
I will learn to love
And learn to try
Not to give it all away.

Maka kuputuskan. I will not give up. Aku akan kembali bersemangat, seperti sedia kala. Sekedar hal kecil tak akan menghancurkanmu di hatiku. Bahwa sekeras apapun ombak meremukkan batu karang, dia akan bertahan, dan begitulah hati dan perasaanku kepadamu.


Mengenaimu Lagi…

Aku selalu mengagumi sosok pria seperti kamu. Pria yang sanggup membawakan ceria, menerangi kelam, meneriakkan sepi, lantas menggiringku kepada bahagia.

Jika kamu tanya apakah yang kuinginkan, ada satu jawaban: menjadi istrimu.

Bagimu tentu itu hal yang berat, namun aku tak akan berhenti berharap.

Kamu datang mengalahkan ego, kamu terima kesalahan dan kekuranganku untuk tetap menyayangiku. Aku bisa merasakan sayangmu, aku bisa melihatnya, mendekapnya, memeluknya… rasa itu sungguh meraja di dada. Mungkin kamu pun tak merasakannya segempita ini.

Aku sangat bahagia bisa memiliki hari-hari produktifmu hampir setiap harinya—dan aku sangat mencemburui siapapun yang dapat melihatmu di saat aku tak bisa melihatmu.

Bagiku waktu selalu terasa tak bersahabat: dia selalu bergegas pergi ketika aku menikmati detik demi detik keberadaanmu.

Orang hanya tahu aku tak berpasangan, namun Allah dan kita tahu kita saling sayang. Mereka harus tahu di saat yang tepat, yang aku percaya akan tiba kelak.

Aku sepenuhnya mempercayaimu, menyayangimu, merindukanmu, menginginkanmu jadi pasangan hidupku. Aku belum pernah seyakin ini, dan kuharap rasamu pun sama adanya…


Yang terdengar hanya “kamu salah!” dan dia terus mengiang.


Cemburu

Dengar, aku tau kamu cemburu.

Tapi haruskah itu menyakiti kita?


Aku ngetwit, kamu diem.

Aku sms, kamu diem.

Aku nyapa, kamu formal.

Dari pagi kamu begitu.

Ya tuhan, ini sungguh menyesakkan.

Sebetulnya ada apa???

Ah.. Sudahlah. Mungkin memang kamu sudah selesai. Aku harus bangun dari kenaifan.

Terima kasih.


Sampai Begitu?

Oh jadi kamu sakit.

Oh jadi kamu tidur seharian.

Begitu sakit sampe2 gak sempet sms atau ngabarin aku.

Begitu lemah untuk sekedar menyapaku.

Kamu begitu lain, dan aku tak paham.

Smsku kamu tanggapi begitu dingin. Saking sakitnya kamu?

Kamu mau semua ini dihentikan?

Sungguh, kalau memang kamu mau sudahan, sekarang bilang saja.

Jika aku pergi, ingatlah bahwa itu karena kamu melepasku.


Mungkin

Mungkin salah tapi salahkah jika aku punya prasangka bahwa aku hanya sekedar pemain pengganti, cadangan, alternatif, sampingan, side dish not main course, pelampiasan?

Yang pada akhirnya takkan berarti, saat kamu ternyata pilih dia, sang ratu.

Karena kamu tetap bersamanya. Dan kata cinta, di saat sama, juga mengalir dari mulutmu.

Mengoyak lembaran hati yang telah membiru, dengan cakar2 kepalsuan yang melukai begitu dalam.

cinta mestinya tak biarkanmu membunuh. Itulah cinta.


‘Cause I miss you.
Body and soul so strong that it takes my breath away.

And I breathe you into my heart.
And pray for the strength to stand today.

‘Cause I love you.
Whether it’s wrong or right.


Analisis

Aku nggak berhak menilai kamu tapi bolehkah aku sekedar berpendapat bahwa menurut pandangan subjektifku kamu butuh pasangan hidup yang:

… dapat membuatmu lebih sadar untuk mengingat tuhanmu?

… dapat membantumu meredam gairahmu akan keinginan-keinginan duniawi?

… dapat menyeimbangkan dan memposisikan diri sebagai pasangan, bukan atasan apalagi guru, bukan tukang perintah, bukan tukang pukul?

… lebih sabar, lebih tenang, lebih suka mendengarkan untuk memahami, bukan sosok yang bawel dan tukang protes?

… paham akan karaktermu, sabar dan tenang menghadapimu, dan setia menantimu apapun yang kamu lakukan?

… sangat mencintaimu dan selalu menganggap kamu pria paling tampan di dunia?

… tak bosan mengagumimu?

… selalu ada untuk memanjakanmu, membelai dan memuja sisi kelelakianmu, membuatmu seperti terbang melayang dalam bahagia karena sentuhannya?

… seperti diriku, memiliki nama seperti namaku, yang, uh, memang adalah aku?

Apakah analisisku betul?


That's the Way We Are, I Guess.

Kamu: aku nggak suka kamu ketawa karena orang lain, bukan karena aku.
Aku: aku nggak suka kamu ngobrol asik sama orang lain, bukan sama aku.

Semakin kukenal dan kupahami orang-orang.

Semakin aku mengagumimu. Menyayangimu.

Sebab #kamu sangat berbeda. Sangat memikat. Tanpa #kamu sadari.

So I’ll be staying, and waiting for #you.